PERTEMUAN 3 PENGANTAR TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI
Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0 (Transformasi Digital)
Pengantar Revolusi Industri
Industrialisasi dipandang sebagai langkah tepat dalam menjawab potret sejarah kemiskinan dunia. Industrialisasi mempermudah pekerjaan dilakukan dan pada gilirannya mengurangi kelaparan melalui ketersediaan makanan, memberikan ketersediaan akan kebutuhan pakaian, dan kebutuhan akan tempat tinggal bagi sebagian kalangan tertentu.
Lebih jauh, memberikan masyarakatnya harapan hidup yang lebih panjang. Walaupun pada awalnya mengurbankan sebagian masyarakat lainnya sehingga muncul kesenjangan sosial serta menghasilkan kerusakan lingkungan, namun pada akhirnya industrialisasi mendatangkan kekayaan serta kenyamaan hidup karena dikelilingi oleh peralatan-peralatan yang user-friendly technologies.
Alltit, 2014, mengemukakan:
Revolusi secara harfiah berarti perputaran roda, tetapi secara kiasan, itu berarti transformasi yang menciptakan perubahan permanen. Istilah "revolusi" jelas tepat karena besarnya perubahan, dipertimbangkan secara kolektif, dan karena dampaknya terhadap nasib seluruh dunia.Ungkapan "revolusi industri" digunakan oleh Friedrich Engels pada tahun 1840-an.
Industrialisasi tampaknya tidak menurun. Sebaliknya, ia telah 'mendunia' dan terus menghasilkan teknologi baru, seperti kemunculan komputer baru-baru ini dan tren menarik menuju miniaturisasi.
Perubahan teknologi sering disertai dengan tatanan sosial dan politik baru, seperti desentralisasi perkotaan.
Perkembangan Revolusi Industri
Revolusi Industri I
Revolusi Industri I dimulai dari ditemukannya Mesin Uap oleh James Watt pada tahun 1764. Temuan ini berdampak pada pekerjaan-pekerjaan dalam pembuatan produk yang biasanya dilakukan oleh tenaga hewan dan kekuatan manusia, yang diperlengkapi dengan peralatan sederhana, kemudian beralih menggunakan mesin bertenaga uap.
Revolusi Industri II
Revolusi Industri 2.0 diawali dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Faraday & Maxwell sehubungan penggabungan kekuatan antara sistem magnetik dengan sistem elektrik yang menggerakan mesin proses produksi serta ditemukannya ban berjalan yang digunakan dalam proses perakitan di berbagai industri, sehingga dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar (mass production). Lahirlah Era Elektrik.
Revolusi Industri III
Revolusi Industri 3.0 dimulai dari temuan internet dan komputer yang mempengaruhi pola komunikasi dan peredaran informasi di masyarakat. Juga temuan robot yang menggantikan tenaga kerja manusia dalam proses perakitan namun masih dikontrol oleh human operators. Dengan demikian, bergeser ke era otomatisasi.
Revolusi Industri IV
Revolusi Industri 4.0 terjadi ketika robot yang terkoneksi dengan sistem komputer, diperlengkapi dengan machine learning algorithms yang dapat belajar dan mengontrol robot itu sendiri tanpa input dari human operators yang dikenal dengan istilah artificial intellegence (AI). Lebih jauh, AI dihubungkan dengan internet based society. Pada dasarnya, revolusi industri 4.0 merupakan penyatuan dunia online dengan industri produksi, sehingga merupakan revolusi industri digital.
Big Data dan Artificial Intelegent
Komputer telah lama berada di masyarakat, namun tidak menangkap perilaku penggunanya. Berbeda saat smartphone digunakan, perilaku konsumen dapat dikumpulkan dalam big data sebagai hasil perekaman aktifitas pergerakan melalui penggunaan GPS, hasil penggunaan akses terhadap internet, hasil komunikasi menggunakan media sosial, hasil interaksi antara konsumen dan produsen dalam menggunakan produk, dan hasil perilaku atau kebiasaan lainnya.
Big data merekam semua data serta kegiatan yang pernah dilakukan untuk kemudian memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa mendatang. Dengan demikian, Big Data memiliki jelajah yang jauh melampaui jaringan media sosial karena mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan moderen.
Marr (2017:8) mengungkapkan bahwa ada tiga area utama dalam bisnis yang sangat membutuhkan akses terhadap big data,
Meningkatkan pengambilan keputusan
Data besar memungkinkan perusahaan mengumpulkan intelijen pasar dan pelanggan yang lebih baik. Dengan semakin banyaknya data yang tersedia, perusahaan mendapatkan wawasan yang jauh lebih baik tentang apa yang diinginkan pelanggan, apa yang mereka gunakan (dan bagaimana), bagaimana mereka membeli barang, dan apa pendapat mereka tentang barang dan jasa tersebut.
Meningkatkan Operasi
Data besar membantu perusahaan mendapatkan efisiensi dan meningkatkan operasi mereka. Dari melacak kinerja mesin hingga mengoptimalkan rute pengiriman hingga bahkan merekrut talenta terbaik, data besar dapat meningkatkan efisiensi dan operasi internal untuk hampir semua jenis bisnis dan di banyak departemen yang berbeda.
Monetisasi data
Data juga memberikan peluang bagi perusahaan untuk memasukkan data besar ke dalam penawaran produk mereka-sehingga data itu sendiri dapat dimonatisasi.
Dengan adanya big data, maka artificial intellegence kemudian dapat lebih dikembangkan lagi. Mirabito dan Morgenstern (2004) mendefinisikan:
Artificial Intelegent
Kecerdasan buatan adalah suatu sistem berbasis komputer yang menduplikasi kemampuan paling penting manusia, yaitu berpikir dan mencari sebab. Proses berpikir tersebut mengacu pada teknologi jaringan saraf (neural network technology) yang berusaha menyimulasi secara elektronik bagaimana otak memproses informasi melalui jaringan saraf-saraf yang saling terhubung untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Internet-Based Society
Lau & Li (2003) mengemukakan bahwa:
Era Digital mengacu pada waktu di mana ada akses yang luas, siap dan mudah, berbagi, dan menggunakan informasi (pengetahuan) dalam bentuk yang dapat diakses secara elektronik, yaitu digital, dalam bentuk kegiatan ekonomi.
Era Digital dicirikan oleh revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan difusi internasionalnya yang cepat, yang telah menyebabkan pengurangan biaya informasi, biaya transaksi, dan biaya pembentukan pasar tetapi meningkatkan ketepatan waktu informasi. dan dalam presisi, resolusi, dan kualitas.
Marr (2017) mendefinisikan :
Internet of Things (loT) mengacu pada perangkat yang mengumpulkan dan mengirimkan data melalui Internet dan mencakup semuanya mulai dari ponsel cerdas, jam tangan pinter, pita Fitbit, bahkan TV dan kulkas Anda.
Digital Economy
Ada tiga tahapan digitalisasi, sebagai berikut:
Seperti yang dikutip oleh Kustiwan (2017), bahwa Farid Subkhan, profesional di bidang marketing dan smart city menyatakan bahwa ada tiga tahap digitalisasi:
Tahap Digitalisasi 1.0, teknologi sebatas menghitung atau mendokumentasi sehingga memudahkan pengambilan keputusan.
Tahap Digitalisasi 2.0, teknologi sudah terhubung satu sama lain sehingga menjadi media sosial untuk bersosialisasi.
Tahap Digitalisasi 3.0, teknologi memberikan akses bagi publik untuk berpartisipasi aktif memberi tanggapan dan respon.
Lahirnya era digital, membangkitkan konektivitas global dimana orang dalam jumlah yang tak terhitung saling terhubung secara daring dan memberikan respon yang luar biasa. Hal ini merupakan sebuah keberhasilan dalam memahami bagaimana teknologi menggerakkan perubahan. Perubahan teknologi ini akan memunculkan paradigma baru yang sangat drastis perbedaannya dimasa mendatang sehingga memunculkan pertanyaan ‘bagaimana manusia di seluruh dunia memanfaatkan teknologi baginya, kini dan di masa mendatang.
Disruptif Era
Umumnya, era disruptif adalah masa di mana banyak bermunculan inovasi yang tidak terlihat, tidak disadari oleh organisasi, instansi, perusahaan, atau lembaga yang telah mapan sehingga mengganggu jalannya tatanan sistem lama yang ada didalamnya dan berpotensi menghancurkan sistem lama tersebut.
Perubahan tatanan sistem lama yang masih manual digantikan sistem baru yang serba digital menjadikan adanya pergeseran tatanan kehidupan pada berbagai bidang, termasuk bidang jasa. Bidang jasa pelayanan, seperti transportasi, jasa makanan, jasa laundry, jasa kebersihan, jasa perbankan, jasa pendidikan, dan lain-lain ikut berubah seiring perubahan konsumen menuju arah era disrupsi yang lebih canggih dan maju.
Perguruan tinggi sebagai penyelenggara bidang jasa pendidikan juga mau tidak mau harus ikut berubah pada era disrupsi yang serba digital. Perguruan tinggi harus mampu menyelenggarakan pendidikan dengan menyesuaikan fasilitas sesuai kebutuhan para mahasiswa maupun lingkungan yang lebih luas
Tingkatan Generasi
Dari Generasi Ke Generasi
Generasi Baby Boomer 1946-1964
Berjiwa petualang, optimistik, berorientasi kerja, anti pemerintah
Generasi X 1965-1976
Individualis, luwes, skeptis terhadap wewenang, harapan tinggi terhadap pekerjaan
Generasi Milenial 1977-1995
PD, berorientasi terhadap kesuksesan, toleran, kompetitif, haus perhatian
Generasi Z 1996-2010
Menghargai keberagaman, menghendaki perubahan sosial, suka berbagi, berorientasi target
Generasi Alpha 2010-sekarang
Belum terdeteksi
Komentar
Posting Komentar