PERTEMUAN 14
TECHNOPRENEURSHIP
1.
Konsep Kewirausahaan “Wirausaha usaha merupakan
pengambilan resiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan
peluang-peluang untuk menciptakan usaha baru atau dengan pendekatan yang
inovatif sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadi besar” (Jong and
Wennekers,2008). Jadi kewirausahaan adalah pengambilan resiko, menjalankan
usaha sendiri, memanfaatkan peluang-peluang, menciptakan usaha baru, pendekatan
yang inovatif, mandiri.
Ciri-ciri kewirausahaan menurut
Scarborough dan Zimmerer(2005:6) adalah:
a. Desire for responsibility:
hasrat bertanggung jawab terhadap usaha-usaha yang tengah dirintisnya yang
diaktualisasikan melalui sikap mawas diri.
b. Preference for moderate risk:
kecenderungan untuk senantiasa mengambil resiko yang moderat yang direfleksikan
oleh pilihan keputusannya yang selalu menghindari tingkat resiko yang terlalu
tinggi maupun yang terlalu rendah.
c. Confidence in their ability to
success: dimilikinya keyakinan atas kemampuan dirinya untuk sukses yang
direfleksikan melalui motto bahwa kegagalan itu tak lain adalah sukses yang
tertunda.
d. Desire for immediate feedback: kehendak untuk senantiasa memperoleh
umpan balik yang sesegera mungkin.
e. High level of energy: dimilikinya semangat dan dorongan bekerja keras
untuk mewujudkan impiannya yang lebih baik di masa mendatang.
f. Future orientation: dimilikinya perspektif ruang dan waktu ke masa
depan
g. Skill at organizing:
dimilikinya keahlian dan keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk
menciptakan nilai tambah
h. Value achievement over money:
dimilikinya suatu tolok ukur yang bersifat kuantitaiffinansial dalam menilai
suatu kinerja.
2. Proses Kewirausahaan
Proses untuk mengembangkan usaha baru terjadi pada proses kewirausahaan
yang dimana seorang pengusaha harus menemukan, mengevaluasi, dan mengembangkan
sebuah peluang. Menurut Serian Wijatno (2009:11) ada empat fase dalam proses
kewirausahawan yaitu :
1. Identifikasi dan evaluasi
Peluang, seorang pengusaha harus melihat, dan memiliki ketajaman untuk
mengidentifikasi suatu peluang yang potensial.
2. Pengembangan rencana bisnis, rencana bisnis yang baik adalah
mengembangkan suatu peluang dan menentukan sumber daya yang diperlukan, serta
mengelola usaha baru dengan sukses.
3. Penetapan sumber daya, seorang pengusaha harus mampu menentukan sumber
daya apa yang akan digunakan dan memanfaatkan peluang yang ada.
4. Manajemen perusahaan, harus
bisa mengimplementasi gaya dan struktur manajemen serta harus bisa menentukan
variabel-variabel kunci kesuksesan sehingga apappun masalah yang dihadapi bisa
segera diselesaikan. Menurut Jeffry Timmons (Bygrave, 2007:56), terdapat 3
komponen utama untuk menjadi entrepreneurship yang sukses. Ketiga komponen
tersebut adalah kesempatan, seorang wirausahawan (atau team manajemen, bila
perusahaan venture), dan sumber daya untuk memulai membangun perusahaan dan
membuatnya berkembang. entrepreneurship yang sukses. Ketiga komponen tersebut
adalah kesempatan, seorang wirausahawan (atau team manajemen, bila perusahaan
venture), dan sumber daya untuk memulai membangun perusahaan dan membuatnya
berkembang.
3. Technopreneur Technopreneur
merupakan kata yang sudah tidak
asing lagi kita dengar. Terutama bagi mereka yang kehidupannya lebih banyak bergantung
di dunia teknologi. Berdasarkan definisinya, technopreneur adalah penggabungan
antara pemanfaatan teknologi dengan konsep entrepreneur (wirausaha).
Technopreneur secara sederhana dapat diartikan sebagai seorang peminat
teknologi yang berjiwa entrepreneur dan tanpa jiwa entrepreneur, seorang
peminat teknologi hanya akan menjadi teknisi yang dimana kurang dapat
menjadikan teknologi yang digelutinya sebagai sumber kehidupannya.
Menurut Daniel Mankani (2003) menyatakan bahwa “Technopreneur adalah
orang-orang yang mengidentifikasi masalah dan memanfaatkan kesempatan. Ada dua
karakter yaitu :
a. Melakukan hal-hal yang tidak mencari keuntungan semata
b. Merasa nyaman bekerja dengan
menggunakan teknologi
Technopreneurship adalah bentuk
semangat dan keberanian sesorang untuk melakukan usaha-usaha berbasis teknologi
secara mandiri. Technopreneurship bersumber dari invensi dan inovasi. Invensi
adalah sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan dan
Inovasi adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh mekanisme pasar.
Orang yang mempunyai gagasan ide
dan menciptakan produk dalam bidang teknologi disebut dengan technopreneur,
karena seorang technopreneur harus mampu menggabungkan antara ilmu pengetahuan
yang dimiliki serta menciptkan suatu produk yang akan dijual di pasar.
Dengan demikian, technopreneurship merupakan gabungan dari teknologi
(kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi) dengan kewirausahaan (bekerja
sendiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis).
Dalam konsep technopreneurship, basis pengembangan kewirausahaan bertitik
tolak dari adanya invensi dan inovasi dalam bidang teknologi.
• Invensi adalah sebuah penemuan
baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan.
• Inovasi adalah proses adopsi
sebuah penemuan oleh mekanisme pasar. Technopreneurship harus sukses pada dua
tugas utama, yakni: menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai kebutuhan target
pelanggan, dan teknologi tersebut dapat dijual dengan mendapatkan keuntungan
(profit).
4. Perbedaan antara Entrepreneurship dan
Technopreneurship
Ada sedikit perbedaan antara
entrepreneur dengan technopreneur, meskipun esensinya adalah sama.
Perbedaan Entrepreneur dan Technopreneur Usaha Kecil Entrepreneur
Tradisional Teknopreneur Motivasi -Sumber hidup -Tingkat keamanan -Bekerja
sendiri -Ide khusus -Personaliti pemilik -Motivasi mendominasi -Ide dan konsep
-eksploitasi kesempatan -akumulasi kekayaan -pola pikir revolusioner -Kompetisi
dan resiko -sukses dengan teknologi baru -Finansial, nama harum Kepemilikan
-Pendiri/rekan bisnis - saham pengendali - Maksimalisasi keuntungan -Penguasaan
pasar -Saham kecil dari kue besar -Nilai perusahaan terus bertambah Gaya
Manajerial -Trial dan error -lebih personal -Orientasi local -Menghindari
resiko -Arus kas stabil -Mengikuti pengalaman -profesionalisme -Resiko pada
menejeman -Pengalaman terbatas -Fleksibel -Target strategi global -Inovasi
produk berkelanjutan Kepemimpinan -Jalan hidup -Otoritas tinggi -Perjuangan
kolektif -Hubungan baik -Dengan contoh -Kolaborasi -Kemenangan kecil -kekuatan
lobi -Imbalan untuk kontribusi -manajemen baru -Sukses masa depan visioner
-membagi kemajuan bisnis -menghargai kontribusi dan pencapaian R&D dan
inovasi -mempertahankan bisnis -Pemilik bertanggung jawab -siklus waktu yang
lama -Akumulasi teknologi sangat kecil - Bukan prioritas utama, kesulitas
mendapatkan penelitian - Mengandalkan franchise, lisensi -Memimpin dalan riset
dan inovasi, IT, biotek global -Akses ke sumber teknologi -Bakat sangat tinggi
-Kecepatan peluncuran produk ke pasar Outsourcing dan jaringan kerja -Sederhana
-Lobi bisnis langsung - Penting tapi sulit mendapatkan tenaga ahli - kemampuan
umum - tidak selalu tersedia pada tingkat global -Pengembangan bersama tim
outsourcing -Banyak penawaran -Science and technology park Potensial pertumbuhan
-Siklus ekonomi -Stabil - Penetrasi nasional cepat, global lambat - Pemimpin
pasar dalam waktu singkat dengan proteksi, monopoli, oligopoli -Pasar berubah
dengan teknologi baru -Akuisi teknologi baru -Aliansi global untuk
mempertahankan pertumbuhan Target pasar -Lokal -Kompetisi dengan produk di
pasar -Penekanan biaya - Penguasaan pasar nasional - Penetrasi pasar mamakan
waktu lama - Produk baru untuk pelanggan baru -Pasar global sejak awal
-jaringan science and tech.park -penekanan time to market, presale dan
postsale. -Mendidik konsumen teknologi baru.
Webster Dictionary (2005) membedakan definisi entrepreneur dengan
technopreneur dalam bidangnya yang lebih spesifik ke arah teknologi tinggi.
Bila entrepreneur didefinisikan
sebagai seseorang yang mengorganisasikan, memanajemen, dan mengambil resiko
dari suatu bisnis atau suatu perusahaan, maka Webster Dictionary mendefinisikan
Technopreneur sebagai seorang entrepreneur dimana bisnisnya melibatkan
teknologi tinggi.
Technoprenuership sudah seharusnya
didorong pengembangannya oleh pemerintah. Hanya dengan bertambahnya jumlah
mereka inilah, maka bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang “berdaya
saing” pada tataran persaingan global. Technopreneur tidak sekedar “menjual”
barang komoditas atapun barang industri yang persaingan pasarnya relatif sangat
ketat. Mereka menjual produk inovatif yang mampu menjadi substitusi maupun
komplemen dalam kemajuan peradaban manusia.
5. Kepribadian Technopreneur
Orang yang keinginan berprestasinya
tinggi akan bekerja lebih keras dalam keadaan bagaimanapun, aslkan ada
kesempatan untuk mencapai sesuatu. Dia tertarik kepada imbalan uang atau
keuntungan terutama karena merupakan umpan balik yang dapat mengukur pencapaian
hasil dari pekerjaannya. Uang bagi entrepreneur yang sejati bukanlah sebagai
perangsang berusaha, tetapi lebih merupakan ukuran keberhasilannya. (Sumber
kutipan:Krisna R. Purnomo, 1994,hal. 11)
McCleland merinci karakteristik mereka yang memiliki konsep need for
achievement (N-Ach) yang tinggi, sebagai berikut:
a. Lebih menyukai pekerjaan dengan
resiko realistik
b. Bekerja lebih giat pada tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental
c. Tidak menjadi bekerja lebih
giat dengan adanya imbalan uang
d. Ingin bekerja pada situasi yang dapat diperoleh pencapaian pribadi
(personal achievement)
e. Menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yang memberikan
umpan balik yang jelas dan positif f. Cenderung untuk berpikir ke masa depan
dan memiliki pemikiran untuk jangka Panjang.
6. Karakter Pembentuk Technopreneur
Spirit dan karakter technopreneur
dibentuk oleh 3 komponen utama pembentuk, yaitu Intrapersonal, Interpersonal
dan Extrapersonal. Intrapersonal dan Interpersonal adalah merupakan komponen
dari faktor soft skill, sedangkan Extrapersonal adalah berhubungan dengan
kemampuan untuk mampu memberdayakan kedua komponen soft skill tersebut agar
mampu diimplementasikan secara lebih meluas dampaknya.
7. Manfaat Pengembangan Technopreneur
Singapura adalah salah satu contoh
negara yang berhasil dalam membuat kebijakan menumbuhkan basis technoprenurnya.
Empat puluh lima tahun yang lalu, Singapura adalah negara kecil di Asia yang
miskin. Dua puluh tahun kemudian, pemerintah mulai berkampanye untuk menarik
perusahaan MNC berteknologi tinggi, dengan insentif pajak, tenaga kerja
terdidik, dan program infrastruktur yang mengagumkan. Dimotori oleh kebijakan
investasi besar-besaran oleh pemerintah yang diambil dari tabungan pensiun
wajib, proyek infrastruktur bernama “Singapore One” bernilai ratusan juta
dolar, telah menghubungkan setiap rumah, sekolah, dan kantor ke internet pada
akhir 1999. Dan negara kecil Singapura ini telah melakukan investasi di bidang
teknologi informasi di sekolah-sekolah dengan nilai yang lebih besar daripada negara
manapun.
Technopreneurship bermanfaat dalam pengembangan industri-industri besar
dan canggih, selain itu juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada
masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lemah untuk meningkatkan kualitas
hidup mereka. Dengan demikian Technopreneurship diharapkan dapat mendukung
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Technopreneurship dapat
memberikan manfaat atau dampak, baik secara ekonomi, sosial maupun lingkungan.
Dampaknya secara ekonomi adalah:
1. Meningkatkan efisiensi dan
produktivitas.
2. Meningkatkan pendapatan
3. Menciptakan lapangan kerja baru.
4. Menggerakan sektor-sektor
ekonomi yang lain.
Manfaat dari segi sosial
diantaranya adalah mampu membentuk budaya baru yang lebih produktif, dan berkontribusi
dalam memberikan solusi pada penyelesaian masalahmasalah sosial.
Manfaat dari segi lingkungan antara lain adalah:
1. Memanfaatkan bahan baki darisumber daya alam Indonesia secara lebih
produktif.
2. Meingkatkan efisiensi penggunaan sumber daya terutama sumber daya
energi. Ada beberapa bidang investasi dan inovasi yang dapat diprioritaskan
untuk memberi manfaat kepada masyarakat ekonomi lemah terdiri dari air, energi,
kesehatan, petanian, dana keanekaragaman hayati. Bidang-bidang diatas masyarakat
ekonomi lemah di Indonesia banyak menghadapi permasalah. pengembangan
Technopreneurship dapat diarahkan sebagai upaya untuk menyelesaikan permasalah
tersebut.
1. Water (air): Technopreneurship memiliki peluang untuk dapat
menyelesaikan masalah ini. Karena banyaknya kebutuhan akan air dari masyarakat
di Indonesia, khususnya air bersih, oleh karena itu para pakar
Technopreneurship memiliki tantangan untuk menyelesaikan maslah ini.
2. Energy (energi) : Tantangan
berikutnya yang harus diselesaikan para pakar Technopreneurship adalah energi.
Saat ini semua negara dihadapkan oleh krisis energi yang semakin memburuk. Dan
yang pasti yang menjadi korban adalah rakyat kecil kebawah. Oleh karena itu
permasalahan ini diharapkan bisa diselesaikan oleh para pakar
Technopreneurship.
3. Health (Kesehatan): Kesehatan adalah yang terpenting untuk setiap
masyarakat, karena jika keadaan tubuh kurang sehat akan mempengaruhi
produktivitas yang dihasilkan. Oleh karena itu fasilitas kesehatan sangat
dibutuhkan. Pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas sangat dibutuhkan
oleh sebagian besar masyarakat kecil ke bawah. Diharapkan para
Technopreneurship dapat membuat suatu proses yang mudah bagi masyrakat dalam
mengakses fasilitas kesehatan tersebut.
4. Agriculture (petanian): Satu
hal ini juga menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Karena sebagian besar
pangan Indonesia bersalah dari luar negeri atau import. Kenapa harus import,
padahal Indonesia dulu dijuluki negara agrikultur (bahkan hingga hari ini).
Penataan lahan yang kurang baik serta diiringi oleh perilaku para pejabat atas
yang kurang baik menyebabkan hal ini bisa terjadi. Kasus ini harus diselesaikan
segera, apabila ditunda-tunda akan memperburuk situasi dan pasti yang menjadi
korban tetap masyarakat kecil ke bawah.
5. Biodiversity (keanekaragaman
hayati) Indonesia terkenal akan kebudayaan hayati yang beragam. Beratus-ratus
spesies tumbuh di tanah Indonesia ini. Hal ini merupakan kekayaan lain dari
Indonesia. Tetapi hal ini tidak menjadi sorotan, padahal hal ini berdampak baik
bagi perekonomi indonesia terutama bagi para praktisi wirausaha. Inilah
tantangan lain yang harus diselesaikan pra pakar Technopreneurship untuk
mempromosikan kekayaan hayati Indonesia sehingga dapat dikenal oleh seleuruh
masyarakat Indonesia dan umumnya untuk masyarakat dunia.
8. Peranan pemerintah dan Perguruan Tinggi
dalam Mengembangkan Spirit Technopreneur.
Pemerintah sebagai regulator diharapkan mempunyai peran untuk menumbuhkan
dan mendukung kultur technopreneur dalam aktivitas pemerintahan. Pemerintah
dalam hal ini adalah penentu Grand Strategy tentang “hendak kemana Knowledge
Based Economic (KBE) Indonesia ini akan diarahkan untuk mencapai daya saing.
Sedangkan perguruan tinggi harus mampu menterjemahkan Grand Strategy tersebut ke
dalam Renstra dan Renop yang tepat, termasuk penciptaan kultur akademis yang
mendukung berkembangnya spirit technopreneur.
Gambaran tentang kemungkinan yang
dapat di lakukan pemerintah dalam pengembangan Entrepreneurship dan
Technopreneurship adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan Insentif Pasar Untuk
Entrepeneurship.
a. Faktor penentu adalah ‘willingness’ dari tiap pribadi untuk menjadi
Entrepeneur. b. Willingness ditentukan oleh benefit yang diperoleh.
c. Di banyak negara regulasi pasar membatasi insentif, sebagai contoh
batas atas harga ditetapkan dibawah market equilibrium.
d. Jika keuntungan ekonomis yg diperkirakan lebih rendah dari opportunity
cost, maka akan mengendurkan minat para Entrepeneur.
e. Di beberapa negara diperlukan policy yang akan meningkatkan insentif
untuk para Entrepeneur.
f. Pemerintah perlu membuat suatu
regulasi dan penetapan harga yang mampu mendorong dan menjadi insentif bagi
para interpreneur.
2. Peningkatan ketersediaan kredit dan modal
a. Faktor penentu kedua yang dominan adalah peluang dan kesempatan.
b. Modal usaha merupakan masalah
pertama yang akan dihadapi para interpreneur untuk memulai suatu usaha.
c. Kebanyakan pemula tidak
memiliki modal yang diperlukan untuk dapat memulai suatu usaha sendiri.
d. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah dapat melakukan hal-hal
berikut: 1) Mendorong berkembangnya perusahaan-perusahaan yang bergerak
dibidang pendanaan. 2) Melaksanakan Program Kredit Usaha Kecil (micro-credit
program).
3. Mengembangkan program yang
mendukung Entrepeneurship
a. Menciptakan lingkungan usaha
yang kondusif, sesuai dengan budaya setempat dan beresiko relatif lebih kecil
bagi interpreneur baru.
b. Program-program lainnya yang dapat memfasilitasi interpreneur dalam
memperoleh modal kerja, menetapkan business plan dan pengenalan terhadap
berbagai regulasi usaha dan perpajakan.
4. Memprakarsai program pelatihan
Entrepeneurship. Penyelenggaraan pendidikan atau kursus tentang interpreneurial
skill akan secara efektif meningkatkan jumlah individu-individu yang kompeten,
yang pada gilirannya akan membantu mereka untuk berhasil.
5. Reformasi regulasi pasar untuk
memfasilitasi penetrasi pasar
a. Pemerintah dapat meningkatan
jumlah interpreneur dengan memberikan kemudahan untuk masuk dalam sektor
formal.
b. Banyak Negara yang menggunakan izin dan lisensi untuk mengatur siapa
saja yang dapat berpartisipasi dalam sektor formal. Meskipun hal ini dapat
menjadi pendapatan atau mungkin juga sebagai perlindungan bagi BUMN, namun hal
ini secara efektif membuat pasar menjadi tidak efisien karena kurangnya
kompetisi dan menghalangi masuknya interpreneur-interpreneur baru.
c. Untuk meningkatkan jumlah
interpreneur, perlu dilakukan reformasi UndangUndang yang terkait dengan
masalah ini.
6. Peningkatan peluang / kesempatan Entrepeneurship bagi para wanita dan
kawula muda.
a. Seringkali perempuan dan karyawan muda usia tidak bisa banyak berperan
dan mendapat kesempatan dalam sektor formal baik karena nilai budaya setempat
ataupun karena peraturan perundangundangan.
b. Hal ini secara esensial
membatasi kemungkinan bagi mereka untuk menjadi interpreneur.
c. Dengan menghilangkan hal-hal
yang bersifat diskriminatif, diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan
bertambahnya para interpreneur baru.
9. Kiat Sukses Technopreneur.
Seperti bisnis pada umumnya, untuk menjadi pengusaha yang sukses di
bidang teknologi ada beberapa tips yang perlu diperhatikan oleh pemula yang
ingin berkecimpung di dunia technopreneur.
a.
Riset pasar
Hampir semua bisnis membutuhkan
riset pasar untuk menentukan feasibility suatu produk atau jasa. Riset pasar
juga memberi keuntungan lebih bagi calon technopreneur sehingga mengetahui
persoalan apa yang akan dipecahkan dalam masarakat.
Setelah itu hasil riset pasar
diwujudkan menjadi sebuah produk yang benarbenar dibutuhkan oleh masyarakat.
Sebab secanggih apapun teknologi yang ditawarkan bila tidak menyentuk
kehidupan masyarakat maka tidak ada seorang pun yang akan memakai atau
membelinya.
b.
Differensiasi produk
Produk yang dibuat harus memiliki keunikan dan keunggulan yang tidak
dimiliki oleh produk lain yang ada di pasaran. Kalau anda memilih untuk jadi
blogger, usahakan konten blog anda benar-benar tidak biasa sehingga orang
berbondong-bondong untuk membaca setiap update terbaru blog anda. Bila anda
ingin menjadi programmer game, buatlah game yang konsep dan permainanannya
belum ada selama ini sehingga orang tertarik untuk memainkannya.
c. Tentukan pangsa pasar Menentukan pangsa pasar juga turut berpengaruh
pada kesuksesan anda. Seorang tehnopreneur harus menentukan akan main di pangsa
pasar yang mana. Hal itu untuk memudahkan spesifikasi produk dan juga saat
menentukan harga jual.
d. Tes pasar Setelah produk anda selesai, sebelum anda melempar produk
tersebut ke publik. Ada baiknya bila anda melakukan tes pasar terlebih dahulu.
Hal tersebut untuk menguji apakah produk tersebut bakal diterima oleh orang
banyak atau tidak. Tes produk juga merupakan saat terbaik untuk mendapatkan
feedback tentang kekurangan yang ada pada produk kita. Makanya technopreneur
harus membuat komunitas yang solid sebagai tempat tes produk.
e. Terus berinovasi
Bila produk tersebut sudah laris manis di pasaran, maka jangan pernah
berhenti berinovasi untuk membuat produk tersebut semakin unggul dan mempunyai
additional value bagi masyarakat. Tengoklah Facebook meskipun mereka merupakan
rajanya sosial media namun mereka tidak pernah berhenti berinovasi. Sebab
seorang technopreneur sejati adalah orang yang mampu mengombinasikan
kecanggihan teknologi dan semangat entrepreneurship.
6. Lindungi hak paten
Hal terakhir yang tidak kalah
pentingnya bagi seorang technopreneur adalah mendaftarkan produk anda ke Ditjen
Hak Kekayaan Intelektual untuk mendapat hak paten atas karya anda. Karena
produk anda berbasis teknologi dan informasi maka hak paten sangat diperlukan
agar tidak ada pihak lain yang menelurkan produk yang sama tanpa seizin anda.
10.
Pendidikan TI Berbasis Technopreneurship
Pendidikan TI berbasis Technopreneurship memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Memberikan kontribusi kongkret dalam mensiasati masalah pengangguran
intelektual di Indonesia.
2. Mengembangkan spirit
kewirausahaan di dunia perguruan tinggi.
3. Meminimalisir gap antara pemahaman teori dan realita praktek dalam
pengelolaan bisnis.
Technopreneur IT Dunia
1. Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz,
dan Chris Hughes merancang dan mengembangkan teknologi jaringan sosial yang
berbasis web, Facebook.
2. Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim merancang dan mengembangkan
Youtube sebagai media berbagi video di antara masyarakat.
3. Bill Gates dan Paul Allen mendirikan Microsoft Corp..
4. Jeff Bezos merancang dan
mengembangkan sistem penjualan buku secara online yang diberi nama Amazon.com.
5. Jerry Yang dan David Filo
mendirikan Yahoo! Inc..
6. Larry Page dan Sergey Brin
mendirikan Google Inc.. 7. Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne
mendirikan Apple Inc..
8. Linus Torvald mengembangkan OS open source,
Linux
Komentar
Posting Komentar